| Sumber: Google |
Mukhamad Misbakhun meluncurkan buku yang berjudul "Melawan Takluk". Kisah dibalik buku tersebut adalah usahanya dalam melawan tudingan kasus Misbakhun korupsi yang mengakibatkan dirinya sempat merasakan kehidupan dibalik jeruju besi walau pada kahirnya Misbakhun di bebaskan dan dinyatakan tidak bersalah.
"Ada hikmah penting dalam proses pemenjaraan itu. Penjara telah menguatkan jati diri dan karakter saya. Penjara berhasil menghilangkan rasa takut yang pernah saya punya," ucap Misbakhun sat acara peluncuran bukunya tersebut.
Dalam buku tersebut, Misbakhun berbicara dalam perspektif sebagai orang yang dihina dan direndahkan martabatnya, hanya demi kepuasan penguasa.
Menurutnya, kriminalisasi terhadap dirinya akan menjadi noktah hitam perjalanan pemerintahan Presiden SBY. Padahal pemerintah selalu mengaku menjunjung tinggi supremasi hukum, menghormati HAM serta tidak melakukan intervensi hukum.
"Bagi saya semua itu hanya retorika pencitraan. Kriminalisasi jadi bukti," tukasnya.
Seperti diketahui, Komisaris PT Selalang Prima Internasional tersebut terjerat dalam perkara pemalsuan dokumen pencairan letter of credit (L/C) Bank Centruy ang terkenal dengan seutan kasus Misbakhun korupsi.
"Kriminalisasi lawan politik hanya terjadi pada pemimpin lemah. Karenanya ketika kita memiliki pemimpin yang lemah, di saat bersamaan kita harus menjadi lawan politik yang kuat. Supaya pemimpin yang lemah tersebut menjadi kuat karena kita sebagai musuh mengajarkan kepada dia bagaimana menjadi pemimpin yang kuat," tuturnya.
No comments:
Post a Comment